Jumat, 10 November 2017

Menikmati Udara Lembang, Menghirup Aroma Eropa di Farm House

Dingin udara Lembang mulai terasa di sekujur tubuh saat mobil kami berhenti dan istirahat sejenak meluruskan persendian setelah 4 jam perjalanan dari Bekasi.

Hawa sejuk khas pegunungan yang menyegarkan, kontur jalan  naik turun dengan bukit-bukit menghijau membuka kembali memoriku saat berada di Monaco pada musim dingin beberapa tahun yang lalu.  Kurentangkan kedua tangan, kutarik nafas dalam-dalam sembari memejamkan mata dan mengucap syukur betapa indah dan sejuknya semesta Mu.

Lembang memang sarat destinasi wisata.  Di sepanjang jalan menuju hotel tempat kami menginap satu persatu tempat-tempat wisata terlewati dengan jarak yang tidak begitu berjauhan.  Udara sejuk, tempat wisata bertebaran dan kuliner khas yang memanjakan lidah merupakan kombinasi yang sempurna sebagai pilihan untuk bersantai di akhir pekan bersama orang-orang yang kita cintai.

Menjelang tengah hari, saat mentari mulai menghangat, kami sampai di Hotel Sandal Woods, hotel tempat kami menginap yang sudah kami booking sebelumnya.  Tampilan hotel dari depan sangat biasa bahkan terkesan sangat sederhana menurutku dibanding rate kamar hotel yang berkisar diatas satu jutaan/malam.


Hotel Sandal Woods


Langkah kakiku sedikit enggan memasuki lobi hotel, sementara pikiranku masih bertanya-tanya "kok gak seperti yang aku liat di websitenya, kecele deh"  bathinku.

Tanpa aku sadari suamiku sudah chek in dan kedua putriku sudah masuk duluan ke ruang lobi.
Aku terperanjat ketika salah seorang dari putriku melambaikan tangannya mengajak aku memasuki ruangan besar di bagian dalam.  Ternyata dugaanku salah.  Hotel ini sangat berkonsep. Ada sebuah ruangan besar yang terhubung dengan alam terbuka, dengan kursi dan sofa- sofa yang tertata apik.  Sudut-sudut ruangan terdapat benda-benda unik miniatur eropa dipercantik lampu remang warna warni.  Di seberangnya terdapat kolam renang dengan air yang biru jernih dan disekelilingnya ada bangunan tinggi dengan warna dan model yang klasik.



Tiba-tiba aku merasa seperti sedang berada di Eropa,
Benar, sang pemilik hotel yang pernah bersekolah dan tinggal lama di Eropa  sengaja mendesain hotel ini bernuansa Eropa.  Sama dengan tempat wisata Farm House dan D'Ranch yang juga miliknya.  Hanya floating market, dan rumah sosis yang tidak dikelola dengan konsep Eropa, celoteh resepsionis dengan wajah sumringah ketika aku menyampaikan rasa ingin tauku.

Aku tidak sabar untuk segera mengunjungi tempat-tempat wisatanya.  Usai melaksanakan kewajiban pada Sang Maha, kami langsung meluncur ke Floating Market yang tidak jauh dari hotel tempat kami menginap.  Sayang sekali, ekspektasiku terhadap pasar terapung ini mungkin terlanjur tinggi.  Dalam bayanganku, kami bisa manaiki perahu dan bertransaksi jual beli di atas air layaknya Floating Market yang ada di Bangkok atau Kalimantan.  Ternyata disini hanya ada para penjual beragam kuliner, diatas tempat yang berbentuk perahu diam yang dipasang berjejer di pinggiran danau.



Hmmm, aku sempat tercenung dan akhirnya tidak lama memutuskan untuk segera keluar menuju tempat wisata Farm House susu Lembang.

Lima belas menit berlalu.  Kami sudah memasuki halaman parkir yang sangat luas di area wisata farm house.  Kubuang jauh-jauh segala harapan tentang indahnya wisata ini.  Sudahlah aku hanya ingin menikmati kebersamaan bersama keluargaku tercinta.  Bagaimanapun suasananya aku sudah sangat bahagia bisa melalui akhir pekan bersama orang-orang yang aku cintai.

Tempat wisata ini sepertinya cukup luas.  Dari halaman parkir menuju pintu masuk cukup jauh.  selintas terlihat asri dan sangat menarik.

Gerimis kecil menemani langkah-langkah kaki kami menuju pintu masuk yang tiketnya bisa ditukar dengan 1 cup susu atau jus atau 1 menu makanan yang ada di resto farm house.
Pandanganku menyapu ke setiap penjuru.  Wow Menarik!!! gumamku dalam hati.


Kedua putriku langsung menyambangi kandang-kandang ternak yang ditata sedemikian menarik.  Ada iguana, angsa, burung, kelinci, kambing, sapi dan lain-lain.  Iya, Farm House ini merupakan tempat wisata di alam terbuka yang berkonsep perkebunan dan peternakan dengan setting dan landscape yang dikelola sedemikian rupa sehingga pengunjung merasakan seolah-olah sedang berada di Eropa.  

Gerimis sesekali masih terasa menyentuh pipi.  Udara dingin, taman dengan bunga mekar warna warni dan bangunan-bangunan klasik semakin mengentalkan rasa Eropa.


Banyak yang bisa dinikmati di tempat ini.  Kamu yang suka kuliner bisa mengunjungi Resto yang pernak pernik ornamennya Eropa banget dan menu-menunya juga lengkap dari lokal hingga menu khas eropa yang maknyus di lidah ada disini.



Yang suka fotografi, disini tempatnya spot-spot cantik ala Eropa dan kamu bisa jeprat jepret sepuasnya.

Yang suka selfie, kamupun bisa berselfie ria menggunakan kostum ala princes Eropa yang bisa disewa dengan harga yang sangat terjangkau, sekitar 50 ribu per kostum.




Atau kamu juga  bisa sekedar menikmati waktu bersama keluarga tercinta dengan menelusuri lorong-lorong taman yang indah, melihat detail rumah hobbit, duduk-duduk bersantai di sudut-sudut taman sembari menghirup hawa sejuk, menyegarkan mata sekaligus pikiran.


Tak terasa, senjapun usai diantara gerimis dan mendung.  Sayap malam mulai mengembang.  Lampu-lampu temaram di taman mulai menyala.  Membuat suasana menjadi semakin indah dan romantis.  Tapi sayang, pekat malam menggiring kami untuk segera beristirahat dan sebelum kembali ke hotel kami menyempatkan berbelanja souvenir yang dijajakan di atas mobil unik dengan beberapa anak tangga bertabur bunga.

Jujur, aku masih menyimpan rasa rindu di tempat ini.  Semoga ada kesempatan lagi untuk bisa kembali kesini.

###

Wassalam,

Nan Djabar

Selasa, 07 November 2017

Sekelumit Wajah Kuala Lumpur



Sekitar jam 8 malam waktu Malaysia, untuk pertama kalinya kakiku menginjak bumi Malaysia, tepatnya di Kuala Lumpur.  Badan cukup terasa pegal setelah perjalanan satu jam dari Singapur menuju Johor.  Singgah di LegoLand dan kemudian kembali berhenti di JPO (Johor Premium Outlet) hingga petang hari, kemudian selama tiga jam mobil melaju kencang membawa kami dari Johor menuju Kuala Lumpur.

Aku dan keluarga kecilku menginap di jalan Bukit Bintang, di sebuah hotel milik orang Bangladesh yang sudah memulai bisnisnya sekian puluh tahun yang lalu.

Memasuki kehidupan malam hari di Kota Kuala Lumpur, hampir tidak ada bedanya dengan kehidupan di ibukota Jakarta.  Hiruk pikuk kendaraan yang berjejal bercampur hilir mudik manusia masih memenuhi jalan-jalan utama.  Gemerlap lampu warna warni di sepanjang jalan, bising suara musik dari tempat hiburan dan restoran masih jelas terdengar memekakkan telinga.  Tentu pemandangan ini jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya.

Setelah chek in dan menaruh koper di lantai 9, kami langsung turun dan berencana memenuhi hajat perut yang sejak tadi keroncongan.  Tidak sulit menemukan makanan disini.  Kiri kanan, depan belakang hotel tempat kami menginap adalah jalan-jalan utama yang berjejer restoran dan warung makan yang menawarkan menu-menu dari berbagai negara.  Dan yang paling menyenangkan disini semuanya dijamin halal.

Ada Restoran Thailand, Resto khas Melayu, Restoran Bangladesh, Arab, Pakistan, Jepang, India,  Cina sampai menu-menu barbeque ala Itali dan negeri Eropa lainnya ada disini.  Wah menakjubkan bukan? ini wisata kuliner terlengkap pertama kali yang aku kunjungi dalam satu lokasi.  Pantes aja kalo ada guyonan diantara orang Malaysia sendiri, kalo mereka meninggal karena kekenyangan makan...heehehhe

Malam itu kami memutuskan untuk menikmati masakan Thailand.  Alhamdulillah perut kenyang hatipun makin senang.

###


Aku bangun saat subuh bukan karena mendengar lantunan adzan, tapi suara hingar bingar dari bawah jendela kamar yang tak mengenal waktu istirahat membuat tidurku menjadi tidak berkualitas.  Kusibak tirai jendela kamar sembari mengarahkan pandangan ke bawah, kendaraan masih berlalu lalang, meski jumlahnya sedikit berkurang.  Sayup-sayup  masih terdengar alunan musik dari kejauhan, sepertinya kota ini tidak pernah tidur dan jauh dari rasa lelah, hmmm inikah potret Kuala Lumpur yang sebenarnya?? tanyaku membathin.

###

Usai menyantap sarapan pagi, aku, suami dan kedua putriku langsung menuju mobil yang sejak tadi sudah menunggu di halaman parkir hotel.  Karena kami menggunakan privat packet jadi waktu dan itinerary sangat fleksibel. Driver sekaligus guide siap menghantarkan kemanapun destinasi yang kami inginkan.

Aku makin penasaran dengan kota ini, Wisata Genting HighLand menjadi destinasi pertama  yang kami kunjungi.  Berharap tempat-tempat yang kami kunjungi sedikit memberikan gambaran atau jawaban dari rasa ingin tahu mengenai banyak hal tentang negeri tetangga ini.

Sky Way Genting HighLand                                                    

Genting HighLand merupakan wisata tanah tinggi Genting yang berada di ketinggian puncak gunung, sekitar 2000 meter di atas permukaan air laut.

Memasuki kawasan menuju Genting High Land, dimulai dengan cable car dan kemudian diteruskan dengan Sky Way atau kereta gantung yang membawa kami berselancar ke angkasa menikmati suasana Genting dari atas bukit.  Aku jadi teringat ketika mendaki Mount Titlis Switzerland beberapa tahun yang lalu dengan menggunakan cable car dan kereta gantung meskipun dengan iklim dan pemandangan yang sangat berbeda tentunya.

Menurut sejarahnya, cable car dan sky way Genting ini dinobatkan sebagai transportasi wisata tercepat dan terpanjang di Asia Tenggara.

Ada perasaan takjub mengingat negeri jiran ini adalah negara berkembang yang sangat dekat dengan Indonesia.  Tapi mereka bisa membangun kawasan wisata dengan teknologi canggih yang menyerap banyak wisatawan dari manca negara.  Padahal kalau dicermati tidak ada yang begitu istimewa dari wisata Genting Highland ini.  Apalagi kalau kita bandingkan dengan wisata pegunungan di Indonesia, jelas keindahan alam dan pegunungan di Indonesia lebih memikat dan mencengangkan.  Mungkin ini PR besar buat dinas kepariwisataan di Indonesia.

Tepat di puncak Genting HighLand, dimana semua wisatawan diturunkan dari kereta memasuki sebuah Mall besar yang siap menggoda para wisatawan untuk berbelanja dan berwisata kuliner.  Kebetulan saat itu area outdoornya sedang direnovasi sehingga kami hanya menikmati udara sejuk Genting dari dalam Mall.

Mall Genting

Dari Genting HighLand perjalanan kami lanjutkan ke Batu Caves di daerah Selangor, Malaysia.  Yang menarik di lokasi ini adalah anak tangga yang berjumlah 272 yang digunakan para wisatawan menuju puncak bukit kapur, gua dan kuil umat hindu dengan patung raksasa seorang dewa umat hindu setinggi 42,7 meter.

Batu Caves


Menjelang sore kami singgah di Istana Negara untuk photo stop.  Istana yang luas, bersih tapi sayang cuaca sangat terik sementara tidak banyak pohon-pohon untuk berlindung.
Dan sebelum kembali ke hotel, kami sempat mengintip pusat perbelanjaan duty free, tempat dijualnya barang-barang branded original dengan harga miring.  Kebanyakan yang dijual disini adalah jam tangan.

Istana Negara



###

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi wisata yang sudah tidak asing lagi di telinga, Menara Kembar Petronas.  Untuk masuk hingga ke puncak menara sebaiknya membeli tiket satu hari sebelumnya.  Harga tiket berkisar 130 RM/orang.



Sky Bridge

Megah, kesan pertama ketika memasuki ruang bagian dalam menara.  Sepasang menara yang dirancang oleh arsitek Argentina ini pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia pada periode 1998 hingga 2004 sebelum dilampaui oleh Burj Khalifa dan Taipei 101.

Tepat di lantai 41 terdapat Sky Bridge, jembatan yang menghubungkan bagian atas menara.  Dari bagian dalam jembatan yang berdinding kaca, pengunjung diberikan waktu 15 menit untuk berfoto dan menikmati pemandangan sebelum melanjutkan perjalanan ke lantai paling atas.

View dari Sky Bridge

Di puncak menara, di lantai 86 disediakan teleskop dan sofa-sofa untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung agar bisa menikmati pemandangan di luar sana dengan suasana yang lebih santai bersama keluarga.

Lantai 86 Menara

Tersedia juga fasilitas game menara dengan layar lebar dan cafetaria yang menawarkan berbagai souvenir.

Dan sebelum meninggalkan kawasan menara, para pengunjung bisa berbelanja di lantai paling bawah di Suriah KLCC Mall dan pada bagian outdoornya terdapat taman  dengan air mancur simfonik yang sangat indah untuk dijadikan background foto.

Dari beberapa tempat yang kami kunjungi, jarang sekali aku temui orang asli melayu.  Bahkan di beberapa restoran yang kami singgahipun kebanyakan bule Eropa, Cina, Arab dan India.

Ini yang menurutku juga sangat menarik.  Guide kami yang asli orang melayu membenarkan realitas itu.  Kondisi multi ras di Kuala Lumpur tidak bisa dihindari, karena sejak Malaysia dijajah oleh Inggris, etnis Cina dan India mulai berdatangan baik sebagai pekerja ataupun berdagang.  Apalagi sekarang para tenaga kerja asing banyak berdatangan untuk mengadu nasib di negeri ini.  Jadilah negeri ini dengan wajah-wajah multi kultural.

Sampai disini, tertarik untuk mengunjungi Kuala Lumpur???

Sepertinya sudah terlalu banyak aku berceloteh, aku sudahi sampe disini dulu ya
sebenarnya masih banyak yang ingin aku tulis, mudah-mudahan next time bisa aku lanjutkan.

What ever, semoga tulisan ini ada manfaat...


"Let's making memories, 'cause time will never turn back"

Wassalam,

Nan Djabar



view dari lantai 41 (Sky Bridge)



Jumat, 06 Oktober 2017

Berwisata ke Kampung Sampireun


Berwisata ke Kampung Sampireun, Garut


Kesan pertama ketika memasuki lokasi Kampung Sampireun adalah sejuk, asri, luas dan seperti berada dalam sebuah perkampungan yang sesungguhnya.  Bagi kami yang tinggal di kota Metropolitan, pemandangan ini sangatlah langka dan tentu saja membuat kami ingin merasakan, menikmati suasana dan segala fasilitas yang ditawarkan disini.

Kampung Sampireun sejatinya adalah Resort atau tempat menginap yang berlokasi di Samarang Garut.  Tidak sulit menuju ke lokasi ini, karena nama Kampung Sampireun ini sudah sangat familiar di telinga masyarakat.  







Tepatnya jam 9.00 pagi kami masuk ke lobi dan disambut hangat dengan senyum dan keramahan dari petugas resort.  Saat itu bertepatan dengan libur akhir tahun, jadi bisa dipastikan para tamu sangat ramai sehingga untuk mendapatkan kamar disini harus booking satu bulan sebelumnya.

Setelah menikmati welcome drink, diiringi alunan musik sunda sambil  menikmati pemandangan unik disekitar lobi kami dihantarkan petugas untuk menuju kamar tempat kami menginap.  Berjalan melalui jalan setapak yang dikiri kanannya taman-taman bunga tertata, melewati pinggiran danau yang diatasnya terdapat kamar-kamar pengunjung yang di desain unik seperti rumah panggung, akhirnya kami tiba di kamar yang sudah disediakan untuk kami.

Wow, cukup kaget karena interior kamar didesain sangat klasik bernuansa ndeso.  Dinding kamar yang terbuat dari anyaman bambu, tiang-tiang penyanggah dari bambu utuh sampai atap pun terbuat dari pelepah bambu.  Tapi tetap dengan sentuhan elegan, unik dan sangat menarik.  Bahkan di dalam kamar disediakan sebuah alat permainan tradisional congklak, permainan anak-anak di era tahun 1980-an.  Amazing!!! Mengingatkan aku pada masa kanak-kanak dahulu.

Aku dan keluarga sangat menikmati suasana dalam kamar yang dingin meskipun tanpa AC (Air Conditioner).  Gelak tawa pun merekah ketika aku mulai memperkenalkan permainan congklak kepada anak-anak yang baru pertama kali melihat permainan ini.  Ah sungguh mengasyikkan..

                                                                        ***
.

Ketika malam tiba, kerlap kerlip lampu dari kamar-kamar yang mengelilingi danau begitu mempesona.  Suhu dingin mulai terasa di kulit, serabi  dan secangkir wedang jahe hangat menemani kami menikmati suasana malam.

Pagipun tak terasa menghampiri.  Udara dingin masih terasa menggigit.  Mentari perlahan muncul dari sela-sela pepohonan rindang seolah mengerti kalau kami butuh penghangat.  Aku dan keluarga menikmati udara pagi dengan berjogging mengitari danau.  Ikan-ikan Koi berukuran besar dan bervariasi bermunculan diatas permukaan air danau.  Menyejukkan mata, menghilangkan segala penat, apalagi ketika mendayung perahu sambil memberi makan Koi-koi tersebut di tengah danau, sangat menyenangkan.





Kegiatan pagi kami akhiri di Resto yang telah siap menyajikan menu sarapan yang sehat dan sangat memanjakan lidah.  Suasana Resto yang didesain outdoor dan tinggi seperti rumah panggung terlihat begitu unik.  Pohon-pohon yang berjuntai mengelilingi Resto membuat kami serasa berada di tengah hutan rimba tapi disuguhi fasilitas dan pelayanan yang modern.  Boleh juga nih konsep Resto nya….. hehehe

Siang hingga sore, waktu kami habiskan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang juga sangat dekat dengan Kampung Sampireun.  Seperti kebun Mawar yang Cuma berjarak tidak sampai 2 km, hiking ke Gunung Papandayan,  atau bisa juga berwisata belanja ke Pusat Kerajinan Kulit atau Leather Centre Sukaregang Garut yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit dari Kampung Sampireun.

Nah, tunggu apalagi, sempatkan weekend mu bersama keluarga untuk menikmati udara Garut dengan bermalam di Kampung Sampireun.

Ok yaaa, sampai ketemu lagi di corat coret berikutnya….

Wassalamu’alaikum

Nan. Dj








Kamis, 19 Januari 2017

Tips agar tulisan perjalanan dimuat di Majalah Ummi

Assalamu'alaikum sahabat blogger.....
Ah, entah udah sekian lama rasanya jari-jari ini tidak menari di blog kesayangan ini.  hari ini, tepatnya sore ini tiba-tiba ada perasaan yang menyeruak untuk berbagi kembali.  Mudah-mudahan manfaat ya... aamiin

Alhamdulillah tulisan perjalananku dan keluarga tercinta ke Benteng Carcassone Prancis dimuat di Majalah Ummi edisi November 2016.  (baca yaaa...)

Satu hal yang aku rasakan berbeda dengan redaksi-redaksi majalah yang sebelumnya memuat tulisan perjalananku, Majalah Ummi sangat profesional dan tepat waktu.  Bayangkan, aku sudah menerima Majalah Ummi secara free sebelum Majalah tersebut beredar di pasar dan yang lebih mengagetkan lagi, fee sebagai kontributor sudah aku terima sebelum tulisanku terbit di Majalah Ummi......Subhanallah, sebuah kerja sama yang sangat manizzz... dan bikin ketagihan....hehehhe

Nah, kali ini aku ingin berbagi sedikit tips agar tulisan perjalananmu juga bisa dimuat di Majalah Ummi :
Pertama ; pilih tempat wisata yang unik, yang jarang diliput oleh media, baik wisata lokal atau wisata manca negara.
Kedua ; sajikan hal-hal yang menarik menurutmu dari tempat wisata yang kamu kunjungi tersebut sebanyak mungkin dan ceritakan secara detail.
Ketiga ; buat beberapa paragraf dan setiap paragraf jangan terlalu panjang.
Keempat ; ini yang paling penting, buat kalimat prolog semenarik mungkin dan upayakan agar kalimat prolog tersebut membuat pembaca jadi penasaran untuk mengetahui isi tulisan lebih lanjut.
kelima ; siapkan beberapa foto dengan resolusi besar, minimal 5 foto dan sebaiknya foto-foto landscape yang di dalamnya tidak ada objek orang apalagi foto kamu ya...hehehhe
Keenam ; Tulislah artikel perjalanan seapik mungkin sesuai dengan gaya penulisanmu
Ketujuh ; Kirim tulisanmu via email ke Majalah kru_ummi@yahoo.com dan jangan lupa tulis kalimat-kalimat pengantar kepada redaksi di badan email ya...

Hmmm.... kayaknya cukup segitu tips dari aku.... mudah-mudahan tulisanmu segera dimuat di Majalah Ummi

See you...
Wassalam,
Nan Djabar

Rabu, 24 Agustus 2016

Wisata Mount Titlis


        Alhamdulillah... tulisan perjalananku bersama keluarga tercinta dimuat di majalah paras edisi bulan mei 2016, edisi unruk  bacaan selama bulan romadhon, kira-kira begitu kata redaksi Paras.

Sebuah perjalanan yang sangat berkesan buat keluarga kami, karena mengunjungi belahan bumi Allah yang bernama Swiss ini tidak hanya sekedar traveling...tapi lebih dari itu.   Perjalanan yang sesunguhnya banyak menempa diri kami untuk menjadi manusia yang pandai bersyukur... cerdas menikmati alam dan menjejaki Kekuasaan-Nya..hingga berharap menjadikan kami manusia2 yang semakin dekat, taat dan menjadi kekasih2Nya di akhirat kelak.  Terimakasih Paras...semoga banyak menginspirasi..

Nan

Selasa, 12 April 2016

[Cerpen] "Aku, Perempuan di Batas Mimpi"

☆☆☆cerpen ini masuk dalam writers club majalah femina dan dimuat dalam website majalah femina☆☆☆

Deg!  Jantungku berdetak kencang, iramanya tak senada, semakin berdebar-debar.  Darah hangat seakan mengaliri setiap lekuk tubuh, mulutku terperangah, tak kuasa mengedipkan mata.  Tiba-tiba pulpen terjatuh dari sela-sela jariku.  Aku tersadar, melirik ke kanan dan ke kiri, betapa semua mata tertuju padaku.  Hmm, aku salah tingkah!

                                                                       ***

 Keriuhan para penumpang yang berdesakan tak mampu mengalihkan pikiranku pada kejadian tadi pagi.  Kereta ekonomi yang bergerak dari stasiun kota menuju Depok, tempat kost-ku terasa berjalan begitu cepat.  Sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya.  Biasanya keletihanku seharian di tempat kerja sudah menjadikan kaki ini enggan melangkah memasuki gerbong.  Tapi hari ini tidak!  Aku begitu bersemangat mengikuti aliran manusia yang berlomba dan bersikut untuk masuk duluan ke dalam gerbong.  Setelah berhasil masuk, aku tidak perduli apakah ada tempat duduk kosong atau tidak.  Aku masih asyik dengan pikiranku yang melayang tak berkesudahan memikirkan kejadian tadi pagi.

 Aku berdiri diantara kerumunan penumpang yang lain.  Tangan kiriku menjepit tas di dada, sementara tangan kananku berpegang di sisi jendela kereta.

 Apa yang telah terjadi denganku???

Entahlah, pesona laki-laki itu begitu dahsyat, bagai magnet yang menarik semua indera yang kumiliki.  Sosok putih bersahaja, dengan tas diselempang di bahu, tinggi sedang dan ada jenggot yang menghiasi dagunya.  Di luar sadar, aku sontak terpana ketika sosok itu tiba-tiba muncul  dari balik pintu dan mengucapkan salam dengan penuh wibawa.

 Rapat pagi itu kujalani sekenanya, sebagai notulen aku tetap berusaha menjalankan tugasku sebagaimana mestinya.  Meskipun teman-teman yang hadir melihat sikap dan tingkahku yang tidak seperti biasanya.

 Aku melompat dengan cekatan ketika kereta berhenti di stasiun kukusan Depok.  Langkah-langkah kakiku begitu ringan menuju tempat pangkalan ojek.  Sepuluh menit kemudian motor ojek telah menghantarkan aku persis di depan tempat kost-ku.  Dengan wajah ceria, sengaja aku berikan uang lebih kepada tukang ojek.

 “Nggak usah, lebihnya buat Abang,” kataku cepat ketika melihat tukang ojek tersebut merogoh sakunya untuk mencari uang kembalian.

 Wajah tukang ojek tersebut sumringah seolah menyimpan pertanyaan yang tak terungkapkan.  Ia hanya mengulas senyum dan memutar balik motornya setelah berujar terimakasih.

                                                           ***

 Wajah itu  begitu mirip dengan sosok pemuda yang berkali hadir dalam mimpiku.  Persis, itu tepatnya.  Bibirku tertarik ke atas saat mengeluarkan handphone dari tas ke atas meja belajar kecilku.  Aku akan punya jawaban ketika emak kembali mengusung pertanyaan yang sama.

 Dengan malas ku buka lembar demi lembar diktat linguistik.  Wajah laki-laki itu bertebaran diantara suku kata, bahkan menyelinap diantara paragraf-paragraf yang terlewatkan tanpa kupahami maknanya.

 “Sampai kapan kau menunggu laki-laki yang hadir dalam mimpimu itu?” Tanya emak saat aku berargumen menolak laki-laki yang ia sodorkan untuk menjadi menantunya.

 Teman-temanku di pasca sarjana acap terkekeh dengan sedikit meledek ketika aku katakan bahwa laki-laki dalam mimpi itu yang akan menjadi pendamping hidupku kelak, ia akan datang tanpa aku tahu kapan waktunya.  Entahlah, setiap kali ada laki-laki yang ingin melamarku, laki-laki misterius itu selalu hadir dalam tidurku.  Sorot matanya menyiratkan kalau ia sangat menginginkan aku, senyum dan anggukannya menggetarkan jantungku.  Ia berkali melambaikan tangan tak rela saat aku memalingkan muka darinya.

 Mimpi itu hadir sejak aku kuliah tingkat tiga di S1.  Tepatnya ketika ada seorang lelaki teman satu kepengurusan di senat menyampaikan keinginannya untuk meminangku.  Di kampusku, menikah sebelum usai kuliah itu sebuah pemandangan yang biasa.  Tapi, kala itu saat hasrat jiwaku mengatakan iya, tiba-tiba untuk kali pertama laki-laki misterius itu hadir mengganggu tidurku, berkali-kali.  Mulanya aku tidak begitu memperdulikan mimpi itu, aku anggap itu hanyalah bunga tidur yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan realita yang kuhadapi.  Tapi, mimpi itu seolah tak rela dianggap angin lalu.  Ia hadir tak terhitung kalinya dan menobrak logika akal sehatku.

 Benar saja apa yang aku duga.  Emak kembali menelponku.  Getar suara seorang nenek yang tak bercucu kembali melontarkan pertanyaan yang sama.  Kali ini aku lebih percaya diri memberikan jawaban.

 “Emak tenang saja, aku telah bertemu dengan laki-laki yang kerap hadir dalam mimpiku itu.”

 “Hah, apa Emak tidak salah dengar, terus kapan kau akan membawanya kemari, menikah di kampung halaman tempat kau dilahirkan,” suara emak terdengar terbahak riang.  “Emak akan segera punya cucu, kau pasti bisa melahirkan anak banyak, tidak seperti isteri abangmu yang mandul itu,”  suara emak tersekat.

 Aku sangat memahami keinginan emak, sejak bapak meninggal tiga tahun yang lalu, hidup emak nyaris tak bersemangat.  Satu-satunya abangku yang masih tinggal di kampung memutuskan untuk tinggal bersama emak.  Tapi kehadirannya tak jua bisa menghibur emak.  Pasalnya sudah beberapa tahun menikah belum juga dikaruniahi keturunan.  Tinggal aku yang jadi tumpuan harapan emak.

 Dua tahun terlewati, aku berhasil menyelesaikan pasca sarjanaku dengan nilai memuaskan.  Aku belum bisa mengabulkan keinginan emak untuk pulang ke kampung sebentar.  Pekerjaanku di sebuah tabloid nasional tidak bisa aku tinggalkan.  Emak kembali menawarkan calon menantunya untukku.

 “Usiamu makin udzur, sudah kau lupakan saja laki-laki dalam mimpi mu itu.”

Aku masih bersikeras menolak, masih dengan alasan yang sama, menunggu laki-laki yang mencuri hatiku dalam mimpi itu.

 Tak kunyana, emak kehilangan kesabarannya.  Ia menuduhku telah melakukan perbuatan syirik, mempercayai mimpi-mimpi yang tidak jelas juntrungannya.  Ia memaki-makiku dengan kata-kata kasar.  Percuma aku sekolah tinggi-tinggi, hanya menghabiskan biaya dan energi jika tidak mampu menggunakan akal sehat, katanya.  Lebih baik kau tinggal di kampung saja, menjadi buruh tani, menggarap sawah dan hidup layaknya orang kebanyakan, katanya lagi.

 Hatiku tercabik saat itu.  Aliran darah di sekujur tubuhku memanas, emosiku memuncak tak karuan.

 “Emak kira siapa yang membiayai kuliahku? Sejak dulu aku bisa sekolah tinggi karena mendapatkan beasiswa.  Aku kuliah sambil bekerja demi mempertahakan hidupku dan juga kalian.  Apa Emak pernah memperdulikan perasaanku? Anak emas Emak adalah abang yang pengangguran itu kan? Aku tertatih mengais nasib di ibu kota dan memutar keras otakku agar kehidupan kalian tetap berjalan.  Aku korbankan naluri kewanitaanku, karena waktu dan otakku hanya berputar bagaimana agar aku bisa lulus dan kebutuhan hidup kalian tetap terjamin.  Sekarang, Emak menuntutku harus punya pendamping.  Tidak mudah buat aku Mak!!!  Selama ini aku tidak pernah mengenal laki-laki, laki-laki yang aku kenal hanya dua, bapak dan abang yang sama bejadnya, menelantarkan isteri karena doyan dengan wanita.” Cerocosku dengan diiringi isak tangis.  “Maafkan aku Mak, aku belum bisa memenuhi keinginan Emak.”

                                                   ***

 Diam-diam hatiku berharap, rapat koordinasi dengan beberapa tabloid di ibu kota kali  ini kembali bisa mempertemukan aku dengan laki-laki tempo hari.  Kandas harapanku, hingga berbulan-bulan tak kutemui lagi sosok itu.  Aku berusaha mengendapkan perasaan itu.  Lagi pula emak sudah tidak lagi bertanya dan menawarkan laki-laki untukku.

Salah satu agenda rapat hari itu membahas tentang teknis kunjungan ke beberapa lokasi bencana.    Sedikit ada perdebatan kecil mengenai siapa yang layak untuk berangkat.  Akhirnya aku satu-satunya wanita yang diutus berangkat menemani dua rekan kerjaku.

                                                    ***

Kunjungan pertama kami adalah ke lokasi bencana merapi di Yogyakarta.  Kami mengunjungi sebuah tempat pengungsian yang berjarak sekitar Sembilan kilometer dari lokasi Gunung Merapi.  Sebuah gedung sekolah yang dijadikan tempat pengungsian di salah satu desa terpencil di Kabupaten Magelang.  Kondisinya sangat tidak layak.  Atap gedung yang bocor disana-sini dan pintu-pintu ternganga tanpa ada penutup.  Kemudian kami beranjak ke tempat pengungsian lain setelah melakukan kontak dan memberikan bantuan materil.

Aku melihat sebuah pemandangan yang sangat tragis.  Aliran ribuan manusia berdatangan dari berbagai barak pengungsian karena barak-barak dan tenda mereka roboh akibat hujan abu dan kerikil.  Ribuan pengungsi beralih ke Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta.  Sekilas aku seperti melihat aliran penonton sepak bola menuju ke stadion besar.  Tetapi mengamati wajah mereka yang kuyu, sayu dan panik disertai riuh hubungan telpon yang mencari sanak keluarga masing-masing, membuat hatiku bergidik haru.

 Tiba-tiba mataku tertambat pada sekelompok orang yang sedang mengevakuasi korban bencana.  Seorang laki-laki dengan beberapa luka bakar di bagian tubuhya akibat terkena awan panas.  Aku seperti mengenal wajah laki-laki itu.  Saat ingin dilarikan ke rumah sakit terdekat, aku sempat melihat wajahnya dengan jelas.  Iya, dia laki-laki yang pernah bertemu dalam sebuah rapat pagi di kantorku.  Laki-laki yang persis hadir dalam setiap mimpiku.

 Desiran hebat mengaliri sekujur darahku.  Rasa ingin tahu mengenai keadaan laki-laki itu menguasai pikiranku.  Entah kekuatan darimana yang tiba-tiba memisahkanku dengan dua rekan kerjaku hingga aku sampai di rumah sakit tempat para korban bencana diselamatkan.

 Aku berhasil menyelusup masuk diantara kerumunan manusia.  Mataku mengawasi ke setiap ruangan rumah sakit.  Sebuah keranda di dorong menuju ruang UGD, yang mengiringinya adalah orang-orang yang sama aku lihat ketika laki-laki itu diboyong menuju rumah sakit.  Tuhan, selamatkan nyawa laki-laki itu, pintaku dalam hati.

 Lama aku terdiam duduk di ruang tunggu depan UGD.  Pikiranku mengelana, ingat mimpi-mimpi itu, pertemuan pertama di rapat itu, ingat kemarahan emak dan teman-teman di jurusan linguistik yang acap mengejekku.  Aku menarik nafas panjang, berharap ini adalah kelanjutan episode pertemuan di rapat pagi itu.  Dan aku bisa menunjukkan kepada emak dan teman-teman bahwa mimpiku bukanlah bunga tidur semata.

 Tak terasa kantuk menghinggapiku, kubiarkan mata ini mengatup sembari menunggu perkembangan baik tentang laki-laki itu.

 Di temaram, laki-laki itu bangkit dan langkahnya tertatih menghampiriku.  Sorot matanya masih tajam, tapi aku tidak menangkap pesan apapun dari bola matanya.  Persis di hadapanku, ia mengulas senyum getir dan pandangannya menyapu sekujur tubuhku.  Aku merinding dibuatnya.  Dan saat aku membuka mulut ingin menyapa,, sekejap ia berbalik arah dan menghilang dari pandanganku.

 Kurasai mataku mengerjap, dan samar suara bising rumah sakit menggoda telingaku.  Aku terperanjat kaget ketika melihat keluar jendela, matahari telah berganti rembulan.  Kuseret langkah menuju ruang UGD, hatiku tiba-tiba dingin dan membeku setelah mendengar keterangan dari suster piket bahwa jenazah laki-laki itu telah dibawa ke Jakarta oleh rekan-rekannya sesama wartawan.

                                                               ***



 Kukemasi pakaian di lemari kecil kamar kostku setelah mengajukan cuti kepada bos di kantorku.  Kali ini aku ingin bersimpuh di kaki emak dan menuruti segala kemauannya termasuk keinginannya untuk menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya.  Terbayang di benakku, wajah ceria dan berbinar-binar menyambut kedatanganku yang sekian lama tidak pulang ke kampung halaman.  Hati emak pasti akan bertabur suka cita.

 Sebelum meninggalkan kamar kost, kuraih telpon genggam dan aku ingin memberitahu abangku perihal kepulanganku ke kampung.   Suara abang terdengar datar di telingaku setelah kukabari bahwa aku akan pulang.  Selang beberapa menit kemudian, telpon jatuh dari genggamanku.  Jantungku berhenti berdetak, asaku menguap menembus langit-langit kamar setelah abang mengatakan bahwa emak telah dikubur seminggu yang lalu di halaman belakang rumah.###


Sabtu, 09 Januari 2016

Venezia, Kota Yang Eksotis

Berkunjung ke Italy, belum sah jika tidak singgah di Kota Venezia.
Kota terapung sebagai salah satu icon wisata di kota ini,
menawarkan sejuta pesonanya…”


Artikel ini, Alhamdulillah dimuat 4 halaman di Majalah Noor Vol. IX TAHUN XII/2015.  Yang beredar di pasaran pada bulan Desember- 2015 sampai Januari 2016.





Venice yang lazim kita sebut dengan Venezia adalah sebuah kota peradaban yang dibangun di atas perairan laut Adriatik bagian utara Italy.  Sekilas, kita beranggapan kota yang dikelilingi air ini menyulitkan manusia-manusia di dalamnya untuk beraktivitas.  Ternyata anggapan itu tidak benar!!!

Eksotis!!! Itu kata yang pertama kali keluar dari mulutku ketika turun dari kapal dan menginjakkan kaki di pelabuhan Kota Venezia.  Saat itu akhir bulan Desember, puncaknya musim dingin di Eropa.  Aku dan keluarga kecilku diberi kesempatan oleh Sang Maha untuk menginjak bumi Italy, dan Venezia adalah destinasi utama kami di Italy, selain Vatikan, Colosseum dan Trevi Fountain di Roma serta Menara Pisa.

Angin saat winter berpadu dengan air laut Adriatik terasa menggigit ke persendian.  Tentu kurang bersahabat buat aku yang sangat mencintai iklim tropis.  Kurekatkan penutup kepala yang bersambung dengan jaket winter berbulu angsa, dengan lapisan luar berbahan polyester yang ringan dan lembut.  Ku-kenakan sarung tangan tebal dan setelah ku pastikan nyaman barulah kami memulai perjalanan menyusuri jalan konblok yang bersusun seperti puzzle.

Aku menebarkan pandangan.  Kota ini sangat bersih dan rapi.  Perahu-perahu dan kapal berukuran sedang tertambat rapi dan teratur di pinggiran laut.  Garis-garis bias kuning sisa sunrise masih bergelayut di salah satu sisi langit.  Diseberangnya, bangunan-bangunan unik bergaya eropa berdiri menjulang.  Tidak saja indah dan megah, tapi mencerminkan sebuah karya seni tingkat tinggi dari sebuah peradaban yang pernah jaya.  Meski  bangunan-bangunan ini sudah terkesan tua, tapi tetap terlihat kokoh dan tanggguh. 

Menyaksikan bangunan dengan tiang-tiang kekar dan kuat mengingatkan aku akan seorang saudagar kaya kelahiran Venezia, Marco Polo.  Ketangguhannya telah menghantarkan beliau menjelajah beberapa negara di dunia dan bahkan beliau pernah mengukir cerita ketika singgah di negeri kita, Indonesia tercinta.

Gondola, Alat Transportasi yang Romantis
Gondola adalah sebuah perahu dayung tradisional asal Venezia.  Gondola merupakan sarana transportasi utama di Venezia selama berabad-abad dan masih memegang peranan penting dalam sistem transportasi publik disana sampai saat ini. 

Gondola digerakkan oleh seorang pendayung yang disebut Gondolier.  Berdasarkan hukum yang berlaku di Venezia, seorang Gondolier harus lahir di Venezia untuk bisa melakukan pekerjaan ini. 

Gondola terbuat dari 280 potong kayu yang terdiri atas 8 jenis kayu, yaitu fir, oak, cherry, walnut, elm, mahogany, larch dan limedan.  Sisi kiri Gondola dibuat lebih panjang dibanding sisi kanan untuk menyeimbangkan berat gondolier.  Di bagian ujung-ujungnya dibentuk runcing seperti tanduk yang melengkung ke atas.  Pada bagian bawah perahu dibuat datar dan di dalamnya terdapat kursi-kursi yang empuk dan nyaman.  Kapasitas angkutan ini sekitar 4-5 orang.   
Karena ukurannya kecil dibandingkan dengan kapal maka alat transportasi ini bisa menembus kanal-kanal yang berada di lorong-lorong sempit.   Untuk bisa berada di atas Gondola ternyata tidak mudah.  Karena alat transportasi ini tergolong mahal, sekitar 80 euro atau setara dengan satu juta rupiah lebih.  Meski mahal para wisatawan jarang yang meninggalkan Venezia sebelum merasakan naik Gondola.  Termasuk aku dan keluargaku tentunya.

Bersama seorang Gondolier yang piawai mengayuh, kami dibawa berkeliling menyusuri kanal-kanal.  Melintasi jembatan-jembatan yang didesain melengkung pada bagian tengahnya agar bisa dilalui oleh perahu, dan menyaksikan  banyak manusia berlalu lalang berjalan di atas trotoar sebagaimana lazimnya sebuah kota.  Inilah potret sebuah kota terapung yang unik dan langka!!

Gondola tidak seperti perahu kebanyakan yang sering oleng ketika bergerak di permukaan air.  Perahu unik ini begitu tenang dan nyaman menghantarkan kami menikmati satu demi satu keindahan lorong-lorong sempit, diantara bangunan-bangunan tua klasik dan jembatan-jembatan kokoh yang saling terhubung.

Terpaan angin, riak air yang tersapu pengayuh dan bangunan yang artistik merupakan kombinasi cantik yang menjadikan suasana semakin romantis.  Sangat pantas jika Times Online menyebut Venezia sebagai kota paling romantis di Eropa.  Karena julukan ini pula banyak film-film yang menjadikan Venezia sebagai lokasi syutingnya.  Diantaranya  film-film yang dibintangi oleh James Bond dan film The Tourist yang dibintangi Agelina Jolie.

Bagi kami, berada di atas Gondola ibarat sedang merayakan pesta cinta yang dikelilingi oleh bertabur keindahan.  Suasana indah yang menghadirkan kedalaman rasa syukur pada-Nya, momen menambah kemesraan dengan pasangan dan melipat gandakan kecintaan kepada buah hati.  Apalagi melihat kedua putriku tersenyum mekar, lengkap sudah kebahagiaan.

Selain Gondola, ada alat transportasi kapal berukuran sedang dengan kapasitas puluhan penumpang yang juga berlabuh di Venezia.  Tapi kapal-kapal  ini jarang dipakai di dalam Kota Venezia.  Biasanya kapal ini digunakan oleh para turis yang ingin berkunjung ke Venezia atau keluar dari Venezia.

Venezia tidak hanya menampilkan keelokan kotanya.  Penduduk yang mendiami kota ini juga sangat terkenal dengan keramahan dan profesional melayani pengunjung.  Kebanyakan mereka berlatar belakang pendidikan tinggi dan mempunyai cara berpikir yang selalu berorientasi untuk maju.  Bagi mereka, tinggal di atas air tidak menjadi kendala sama sekali.  Keramahan itu sangat jelas ketika kami mulai berinteraksi dengan Gondolier dan para pedagang yang ada di Venezia.

Jejak Islam di Venezia
Venezia  dibangun sekitar abad ke 7 Masehi.  Terdiri dari 118 pulau-pulau kecil di laguna (danau pinggir laut) yang memiliki akses langsung ke laut Adriatik dan laut Mediterania.  Karena letaknya di tepi laut menjadikan kota ini sebagai kota maritim yang penting dan menjadi pusat perdagangan di Eropa Barat. 

Venezia mulai melakukan hubungan perdagangan dengan dunia islam sejak abad ke 8 Masehi.  Kita ketahui bersama, Negara Islam berdiri pertama dibawah kepemimpinan Rasulullah pada abad ke 6 Masehi, tepatnya Tahun ke-2 Hijriyah.   Melalui hubungan dagang yang terjalin selama berabad-abad, pengaruh budaya dan seni islam banyak masuk dan mempengaruhi  corak kehidupan orang-orang di Venezia.

Hingga abad ke 12, hubungan islam dan Venezia semakin erat.   Pemerintahan islam saat itu berpusat di Istanbul Turki dengan pemerintahan Turki Ustmani yang dipimpin oleh Muhammad Alfatih.  Saat itu banyak orang-orang Venezia mempelajari bahasa arab dan menghabiskan waktunya untuk tinggal di daerah-daerah Islam.  Mereka, orang-orang Venezia mengagumi banyak hal tentang kemajuan di dunia islam.  Mereka tidak saja membeli rempah-rempah, sutera, barang-barang mewah yang kemudian dijual di Venezia, tetapi mereka juga mempelajari dan mengadopsi karya seni, budaya, dan arsitektur islam pada masa itu.  Bahkan banyak dari risalah astronomi dan matematika klasik yang dikenal di Venezia awalnya diperkenalkan melalui terjemahan dari bahasa Arab.

Piaza San Marco adalah salah satu bangunan yang arsitekturnya diilhami oleh arsitektur pada masa Turki Ustmani.  Ciri khas bangunan ini adalah adanya menara setinggi hampir 100 meter.  Dari puncak menara ini kita bisa melihat view Kota Venezia dengan leluasa.  Piaza San Marco juga terkenal sebagai landmark Kota Venezia dan terletak di alun-alun utama Kota Venezia.

Melihat Piaza San Marco dari dekat juga bangunan-bangunan unik yang pada bagian depan terdapat deretan pintu-pintu melengkung kebawah, memutar memoriku ke masa beberapa tahun yang lalu saat aku berdiri di salah satu sisi Mesjid Nabawi Madinah.  Lekukan-lekukan setengah melingkar berjejer sempurna dan ukiran-ukiran di banyak sisi dan sudut serta kubah-kubah di atas bangunan menampilkan karya seni yang kental nuansa islam.

Setelah puas mengukir kenangan di atas Gondola dan menyusuri jejak-jejak Islam diantara bangunan-bangunan tua dan klasik, kami menyempatkan untuk singgah ke beberapa kios pedagang.  Beragam jenis barang yang ditawarkan dalam kios-kios yang berada di sepanjang jalan.  Mulai dari perlengkapan winter, gantungan kunci dan bahkan beberapa kios sengaja menjual souvenir berupa topeng-topeng wajah manusia. 

Konon, topeng-topeng ini adalah cerminan dari sebuah tradisi budaya yang dilakukan setiap tahun dengan pesta yang sangat meriah.  Sayang sekali saat kami berkunjung, tidak bertepatan dengan waktu perayaan tradisi budaya tersebut.  [Nani Djabar]