Minggu, 06 September 2015

Menjaring Ilmu Bisnis Traveling dari Java Travel World


Sabtu, 5 september aku berkesempatan mengikuti seminar yang bertajuk ‘Travel Money  Machine’ di Hotel Sofyan Inn Tebet yang merupakan seri lanjutan dari seminar pertama satu minggu sebelumnya.  Seminar ini diselenggarakan oleh PT. Java Travel World yang beralamat di Jalan Tebet Barat No:10, Jakarta Selatan.

Aku memang termasuk suka ikut  seminar yang mengedukasi, apapun temanya.  Tapi gak biasanya, setelah usai mengikuti seminar ini hatiku terpanggil untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.  Kebetulan aku suka traveling, tapi bukan itu alasannya.  Seminar ini sangat inspiratif!!!  Itu jawaban yang tepat.

Sosok pemuda lajang usia 22 tahun menjadi pembicara utama seminar itu.  Aku yakin sebagian besar peserta seminar yang berjumlah hampir ratusan itu menyimpan pertanyaan masing-masing dalam benaknya.  Apa yang bisa dishare oleh seorang anak yang baru lahir kemarin sore dan gak pernah makan bangku kuliah.

Realitas, umumnya pada usia 22 tahun seseorang baru saja menyelesaikan S1-nya dengan pengalaman nol dan siap untuk kembali belajar mengimplementasikan teori-teori dalam kehidupan nyata.  Tapi berbeda dengan arif, sapaan CEO Java Travel World ini.

Sejak tamat SMA, Arif sudah memulai karir bisnisnya dan berpetualang dari satu bisnis ke bisnis lainnya.  Menjelajah dunia bisnis yang tidak mudah hanya mengandalkan kepekaan dan bermodalkan keberanian untuk menangkap setiap peluang.  Mandiri, belajar dan kerja keras serta punya nilai-nilai dalam hidup adalah mottonya dalam menggeluti bisnis.  Jungkir balik, pahit dan getirnya  dunia bisnis sering dia alami.  Bahkan pada usia 19 tahun Arif terjerat hutang sebesar 1,2 Miliar.  Tapi dengan kepiawaiannya dan insting bisnis yang terasah, ia mampu bangkit dan bahkan sekarang bisnisnya makin besar dan merambah ke berbagai lini, diantaranya property, kuliner, travel dan saat ini beliau telah sukses menjalankan enam perusahaan sekaligus.  Hanya dalam waktu 3 tahun, amazing!!!

Jujur, aku lebih simpati dengan sosok praktisi seperti Arif.  Ketika pernah beberapa kali mengikuti seminar Valentino Dinsi, yang menurutku lebih banyak berkutat pada teori dan perhitungan-perhitungan bisnis yang alih-alih membuat audiencenya berani memutuskan untuk memulai bisnis, yang ada malah sebaliknya, maju mundur dan akhirnya memilih untuk tetap menjadi karyawan.  Padahal dari beberapa kontak personal dengan para ibu-ibu peserta seminar yang notabene calon pengusaha dan sebagian kecil pengusaha level menengah bawah, mereka hanya ingin bagaimana setelah keluar seminar prospek meningkat dan benefit bertambah.  Dan untuk calon pengusaha, mereka berani memutuskan untuk memulai bisnis.  Simple bukan, tidak serumit teori-teori di buku tebal itu.

Mungkin sosok Arif inilah yang tepat disebut sebagai from Passenger to be Driver dalam bukunya Rhenald Kasali.  Tipekal yang menjadikan dirinya sebagai kendaraan dan sekaligus sebagai pemegang kendali untuk berani bertarung menjelajahi kehidupan dengan berbagai resiko.

“Menjelajahi kehidupan berarti bertarung menghadapi tantangan dan perubahan seperti seorang pengendara yang tak bebas risiko.  Kadang ia tergores, berbenturan dengan kendaraan lain.  Dan kalau kecelakaan dialah yang diadili, bukan penumpangnya.  Sebaliknya, untuk menjadi penumpang anda boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tak perlu tahu arah jalan, bahkan tak perlu merawat kendaraan sama sekali.” (Self Driving, Rhenald Kasali, Paragraf 2, hal. 1, 2015)

Mental seorang driver inilah yang membuat Arif begitu percaya diri berbicara dihadapan audience, sharing berbagai kiat praktis dan implementatif bukan hanya sekedar memindahkan teori-teori buku ke ruangan seminar.

Diantara kiat sukses bisnisnya yang sangat terkesan olehku adalah anti riba dan make rich together.

Keterpurukannya hingga terjerat hutang dan konsekuensi lainnya seperti terancam penjara dan lain-lain menjadi titik kebangkitan bagi Arif.  Dari pengalaman inilah kemudian Arif merubah pola bisnisnya yang tidak hanya sekedar meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi lebih kearah bagaimana agar bisnis yang ia jalani memberikan keberkahan.  Caranya? Sama sekali tidak bermain dengan riba.  Dan Arif berusaha menggaet agen travel sebanyak-banyaknya dengan biaya seminim mungkin agar  bisnis travel agen ini tidak hanya bisa dijalankan oleh kalangan the have tapi semua masyarakat dari semua level klas sosial bisa ikut bergabung menjadi pengusaha agen travel.  Arif dan timnya siap memberikan free konsultasi agar bisnis travel agen ini bisa tumbuh bersama-sama, sukses membangun mesin uang bersama-sama, dan  kaya secara material itu adalah bonus dari Allah karena  Allah ridho dengan apa yang sudah dijalankan. 

Ingin mengetahui lebih detail tentang Java Travel World atau ingin mengikuti seminar-seminarnya yang inspiratif bisa di klik di : Java Travel World

Demikian sedikit ulasan tentang seminar  Java Travel World yang saya ikuti.  Semoga, banyak pemuda-pemuda yang tertulari semangat belajar dan kerja keras bermental driver seperti Arif.  Sukses di dunia, dan semoga juga sukses di akhirat. Aamiinn.

Senin, 31 Agustus 2015

Teknik Foto Sunset-Sunrise Bagi Traveler


Foto dan traveling adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.  Setiap perjalanan pasti mengukir cerita, yang salah satunya dapat diabadikan lewat foto.  Sayang kalau momen-momen traveling kamu ternyata hanya menghasilkan foto-foto yang apa adanya alias kurang bisa dinikmati oleh banyak mata.  Sebaliknya perjalanan kamu akan lebih bermakna dan lebih bisa dikenang dalam sebuah foto yang mampu mengangkat cerita dari sebuah obyek yang ditangkap oleh mata lensa.

Nah, pada kesempatan kali ini aku ingin berbagi pengalaman (berbagi pengalamannya digaris bawahi tebal dan warna merah ya, karena aku bukan fotografer professional alias masih amatir), bagaimana teknik foto sunset-sunrise, sehingga sunset-sunrise yang kita capture bisa kita nikmatin dalam sebuah foto yang keindahannya kita upayakan semirip mungkin dengan obyek aslinya.  Kenapa aku katakan semirip mungkin? Karena lensa kamera adalah teknologi buatan manusia yang secanggih apapun tidak akan mampu mengalahkan lensa mata buatan Sang Maha yang mampu menterjemahkan objek dan warna demikian sempurna.

Kenapa pula aku fokus pada teknik foto sunset-sunrise saja? Kok tidak foto landscape atau yang lainnya?
Alasan pertama, karena sunset-sunrise itu berlangsung sangat singkat dan momen yang tidak bisa diputar kembali, esok lusa masih ada sunset-sunrise tapi tidak akan pernah sama karena kondisi cuaca harian yang tidak selalu sama.  Jadi butuh teknik khusus agar momen singkat ini tidak terlewatkan dengan sia-sia.  Alasan kedua, karena adanya golden hour.  Istilah golden hour dalam fotografi diartikan sebagai momen dengan kondisi pencahayaan terbaik.  Cahaya adalah faktor yang paling menentukan baik buruknya sebuah foto.  Golden hour terjadi dalam waktu antara sebelum dan sesudah matahari terbit (sunrise) dan sebelum dan sesudah matahari terbenam (sunset).  Kira-kira dalam rentang waktu jam 17.00-19.00 dan jam 05.00-07.00.  Pada rentang waktu ini cahaya matahari menerpa obyek dari sudut miring sehingga memberikan dimensi dan tekstur  yang kaya dan warna cahaya keemasan yang lembut dan hangat.

Ada beberapa teknik foto sunset-sunrise yang perlu diketahui seorang traveler sebelum melakukan traveling :

·         *Menentukan destinasi perjalanan itu penting.  Cari tahu dimana dan arah mana posisi sunset atau sunrise berlangsung pada lokasi tujuan traveling kamu. Sebelumnya ada baiknya kamu browsing tentang obyek apa saja yang ada di lokasi tujuan wisata kamu, sehingga sedikit banyak kamu sudah bisa menentukan sudut pengambilan foto kamu.  Jangan mengikuti angle foto kebanyakan, carilah sudut-sudut pengambilan yang berbeda agar foto yang kamu hasilkan terlihat lebih unik.

·         *Setting kamera.  Setting kamera ini menjadi kunci foto kamu.  Minimal ada 5 hal yang harus kamu setting sebelum mulai meng-capture sunset-sunrise.  Pertama, pilih mode manual (M) pada roda bagian kiri atas kamera.  Kamera yang aku gunakan adalah DSLR Nikon D90, biasanya dalam setiap kamera digital DSLR, mirrorless, atau kamera saku yang agak canggih pasti dilengkapi roda dengan pilihan notasi M, A, S, P untuk Nikon dan M, Av, Tv, P (canon). Kedua, geser mode auto fokus ke manual.  Tombol  AF (auto fokus ) pada kamera Nikon D90 terletak di bagian bawah kiri.  Ketiga, tentukan nilai ISO pada kisaran 100-200.  Sebenarnya nilai ISO bisa kamu sesuaikan dengan keinginan kamu.  Jika kamu menginginkan obyek sunset-sunrise lebih terang, naikkan ISO begitu juga sebaliknya jika kamu ingin sedikit lebih gelap, nilai ISO nya bisa diturunkan.  Keempat, tentukan nilai F (bukaan) dan S (speed).  Biasanya kalau untuk sunset-sunrise aku menggunakan nilai F pada kisaran 11-32 dan speed pada nilai 60-100.  Kelima, pilih white Balance pada cloudy atau shade.  White Balance ini juga sangat penting, pemilihan cloudy atau shade menghasilkan nuansa yang berbeda dan foto sunset-sunrise yang kamu hasilkan akan lebih terlihat dramatis.  Ingat! jangan pernah memilih Auto White Balance.  Karena aku lebih suka sunset-sunrise dengan warna merah keemasan maka aku sering menggunakan white balance-shade.

manual setting pada kamera nikon
Setting pada M (Manual)
settingan manual fokus pada kamera nikon
setting  manual fokus (M)

*

nilai f dan s pada kamera nikon
tentukan angka F(bukaan) dan S(Speed)
pada gambar diatas f/22 dan speed 100

nilai ISO 200 pada kamera nikon
menentukan angka ISO, pada gambar diatas ISO 200


white balance pada shade di kamera nikon
memilih shade pada white balance

·         *Wajib menggunakan tripod atau penggantinya.  Jika kamu ingin mendapatkan hasil foto yang tajam maka tripod wajib digunakan.  Tripod ini  dimaksudkan untuk menghindari getaran saat memencet tombol shutter.  Jika belum memiliki tripod, gunakan batu atau apapun untuk meletakkan kamera dengan aman dan gunakan self timer.  Selain menghindari getaran, dengan tripod kamu bisa mengatur komposisi foto dengan leluasa.  Jika objeknya pantai, maka kamu bisa meluruskan garis horizon dengan sempurna.

tripod sebagai objek sunrise
tripod, dijepret dengan batu sebagai penyangga kamera

·         *Mengatur komposisi.  Komposisi dalam fotografi bisa diartikan sebagai cara menyusun elemen-elemen secara keseluruhan yang menjadi objek foto dalam satu ruang.  Kenapa perlu diatur?  Agar foto yang kamu hasilkan lebih menarik dan lebih indah dilihat, karena elemen-elemen di dalamnya diatur secara seimbang.  Komposisi yang paling terkenal dalam teori fotografi adalah Rule of Third atau komposisi sepertiga layar.  Bisa dilihat contoh foto pantai dibawah ini.  Tapi bukan berarti mutlak ya, fotografi itu ilmu seni yang fleksibel dan tidak kaku.  Jadi Rule of Third tidak selalu harus, yang terpenting asah kepekaan kamu untuk menangkap dan mengatur elemen-elemen yang menjadi objek foto kamu sehingga menghasilkan foto yang luar biasa.  Caranya? Banyak-banyak latihan, jepret…jepret…dan jepret… hehehhe

sebuah perahu sedang menuju darmaga
Rule of Third, air laut menempati 1/3 layar, 2/3 layarnya langit
B     *Bermain dengan siluet.  Memanfaatkan bentuk-bentuk atau lekukan sebuah objek yang menarik pada saat sunset-sunrise akan menambah daya tarik foto yang akan kamu hasilkan.  Biasanya objek yang paling menarik dijadikan siluet adalah tubuh manusia.  Lekukan separuh badan atau keseluruhan dipadu dengan objek yang ada di sekitar akan bisa menghasilkan sebuah foto yang hidup dan mampu menyiratkan sebuah cerita.

siluet manusia pada saat sunset
kombinasi siluet bentuk tubuh dan batu karang-foto bercerita
foto diatas diambil pada saat sunset di Pantai Sawarna, Banten.  Langit memenuhi 1/3 layar, dan memadukan siluet bentuk tubuh manusia dengan siluet batu karang.  Terlihat sangat dramatis dan saling melengkapi. dicapture pada F/13, 1/25 s (speed), ISO 200, menggunakan lensa kit 18-55 mm plus wide konverter.

Oh ya, kalo mengcapture sunset-sunrise biasanya aku menggunakan lensa kit standar plus wide converter dan lensa tele 70-300 mm.  Kalo kamu punya lensa wide, tentu akan menghasilkan foto yang lebih ciamik.

sunrise di parai bangka
saat sunrise, pohon kelapa sebagai siluet dan langit 2/3 layar
matahari terbit di pantai parai
f/29, 1/25s, ISO 200
foto pantai di atas dicapture  saat sunrise pada waktu golden hour, dengan white balance shade.  Aku mengkombinasikan elemen batu sebagai fore ground, air laut dan batu karang serta langit memenuhi 1/3 layar.

sunset tanah lot bali
Foto sunset tanah lot bali, aku capture beberapa saat sebelum matahari terbenam.  Aku memanfaatkan dua batu karang yang berdekatan ini sebagai siluet dan 1/3 layarnya aku tempatkan pada gelombang air laut.

Ok ya, kira-kira demikian teknis mengabadikan foto sunset dan sunrise, selamat mencoba...salam jepret...
(Nani Djabar)

Rabu, 26 Agustus 2015

Melepas Penat di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu


Untuk pertama kalinya aku dan keluarga mengunjungi salah satu pulau diantara gugusan pulau-pulau yang ada di Kepulauan Seribu.  Pulau Pramuka, yang kemudian aku ketahui sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan  Seribu.


Tidak Percaya! Kata itu yang terlintas di kepalaku ketika turun dari kapal yang membawa kami mengarungi laut selama lebih kurang dua jam dan kemudian melabuhkan kami di Pulau Pramuka.  Aku pikir Pulau Pramuka adalah pulau kecil yang sunyi.  Pulau yang hanya didiami oleh segelintir orang yang memiliki homestay  atau fasilitas yang menawarkan paket-paket bahari untuk kepentingan bisnis pariwisata.  Ternyata aku salah! Kerumunan manusia memenuhi jembatan yang menghubungkan pelabuhan dengan Pulau Pramuka.  Ada wisatawan lokal, asing, para pedagang yang menjajakan makanan di pinggir jembatan, orang-orang perahu, dan tentu saja yang paling ramai adalah penduduk yang mendiami kepulauan ini.  Pantas saja, pulau yang luasnya hanya sekitar 9 hektar ini dihuni oleh sekitar  1004 jiwa. 


Pulau Pramuka, sebagaimana pusat pemerintahan kebupaten lainnya, mempunyai fasilitas yang cukup memadai.  Ada sekolah dari jenjang SD hingga SMA, Rumah Sakit, Mesjid Agung, Bank dan kantor bupati beserta rumah dinas bupati dan para pejabat kabupaten.  Masyarakat disini sangat ramah, perduli dan kental rasa kekeluargaan.  Tapi satu hal yang aku sayangkan, untuk makanan variasinya kurang banyak karena sangat tergantung pasokan dari Jakarta.


Langkahku sedikit tertatih menuju ke Homestay yang sudah kami booking sebelumnya.  Pemilik Homestay begitu ramah menyambut kedatangan  kami.  Sepertinya dia sangat paham kalau aku masih merasakan pusing karena mabuk laut.  Ah, baru kali ini kepalaku terasa sangat berat.  Sabar dan nikmatin saja, kilahku dalam hati.


Setelah istirahat dan merebahkan tubuh di kamar yang cukup luas dan bersih, kami diajak pemilik homestay yang sekaligus pemandu kami selama di Pulau Pramuka untuk makan siang.  Makan siang di pinggir pantai dengan panorama hutan bakau dan lautan luas tak bertepi, sesekali ditiup hembusan angin membuat kami tidak sabar untuk memulai perjalanan.


Penangkaran Hiu

Tepat jam tiga siang, saat matahari mulai meredup dan teriknya tidak terlalu menggigit, kami memulai perjalanan ke penangkaran hiu yang letaknya di tengah lautan.  Untuk sampai ke lokasi penangkaran hiu tersebut kami  menggunakan perahu motor dengan waktu tempuh sekitar lima belas menit.
Pemandangan pertama yang aku saksikan setelah turun dari perahu motor adalah jembatan kayu yang sangat panjang membelah sisi lautan.  Dari jembatan inilah, para pengunjung bisa menyaksikan hiu-hiu cantik yang hilir mudik di dalam kolam penangkaran.  Dari atas jembatan yang sangat panjang menjorok ke lautan ini pula, para pengunjung bisa menikmati udara lepas dengan panorama lautan luas yang airnya sangat jernih dan menyegarkan.



penangkaran hiu pulau pramuka



ikan hiu di penangkaran



kolam penangkaran hiu pulau pramuka




Sayangnya, hiu-hiu di penangkaran ini hanya bisa dilihat, tidak bisa dipegang atau diajak bermain atau berenang bersama seperti penangkaran hiu yang ada di karimun jawa.  Penangkaran hiu ini dimaksudkan untuk melestarikan keberadaanya yang sudah semakin terancam punah karena banyaknya manusia yang memanfaatkan sirip hiu untuk membuat sup sirip hiu yang menjadi standar prestise dalam tradisi perayaan imlek.  Diharapkan dengan penangkaran hiu ini, keberadaan biota dan ekosistem di lautan tetap terjaga keseimbangannya.


Setelah puas menyusuri jembatan sambil berfoto ria, menyaksikan hiu-hiu di kolam penangkaran, kami beristirahat di sebuah resto apung yang hanya beberapa meter saja dari kolam penangkaran hiu.

Di resto ini disediakan berbagai menu berat dan ringan, di bagian belakang resto juga terdapat tempat untuk berbelanja berbagai souvenir dan oleh-oleh.  Duduk di kursi outdoor ditemani makanan ringan sambil memandang lautan yang bening, ikan-ikan kecil berseliweran, beberapa rumpun hutan bakau menyembul diatas air dan perahu-perahu yang hilir mudik, begitu menenangkan bathin, hilang lepas segala penat.




www.nanidjabar.blogspot.com



resto apung di penangkaran hiu




Penangkaran Penyu Sisik

Tak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan hari itu ke penangkaran penyu sisik.  Sebagaimana hiu yang keberadaannya mulai terancam, penyu sisik pun demikian.  Penyu-penyu ini dilestarikan dalam kolam-kolam penangkaran indoor.  Telur-telur penyu yang berhasil diselamatkan di pinggiran laut ditimbun dalam pasir yang diupayakan sedemikian rupa hingga menyamai habitat aslinya.  Setelah menetas, penyu-penyu bayi ditaruh dalam bak-bak penampungan.  Dirawat, dipelihara sampai menjadi penyu dewasa yang siap dilepas ke lautan tempat habitat yang sebenarnya.  Penyu sisik ini termasuk dalam jenis penyu yang terancam punah.  Predator yang paling berbahaya adalah manusia, terutama para oknum yang memanfaatkan karapas atau cangkang penyu sisik yang sangat unik dan cantik untuk dijadikan bahan dasar perhiasan yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi.

penyu sisik pulau pramuka


penyu langka


penangkaran penyu sisik pulau pramuka


Tidak terasa, waktu semakin sore, sementara itenarary kami hari itu masih ada satu lagi.  Menjelang sunset, pemandu mengantar kami ke lokasi tempat bermain banana boat.


Banana boat merupakan water sport atau olahraga/permainan air yang seru dan menegangkan.  Kami tidak mau membuang waktu yang sudah semakin sempit karena sebentar lagi matahari pulang keperaduannya.  Segera kami kenakan life jacket atau baju pelampung dan langsung menuju boat/perahu yang berbentuk pisang yang sudah menunggu kami untuk memulai permainan.


Spontan kami tertawa terbahak, berteriak saat speed boat menarik boat kami dengan kencang, kemudian diputar ke kanan dan kekiri, meliuk-liuk diantara semburan air laut yang menerpa wajah dan puncak keseruan dari permainan ini adalah saat di jatuhkan ke dalam air laut. 

banana boat di pulau pramuka



water sport saat sunset


Bahagia, senang, dan penuh dengan gelak tawa.  Apalagi kami diajak berputar-putar dan kembali banana boat kami dibalik dan kamipun tumpah ke air laut hingga tiga kali.  Aaaahhh senangnya….
Hilang semua penat…..ini benar-benar terapi jiwa yang paling menyenangkan…***

Baca juga snorkeling di pulau pramuka di : Surga Bawah Laut, Bukan Surga Yang Tak Dirindukan

Jumat, 21 Agustus 2015

Warso Farm, Wisata Sambil Makan Durian


Suka makan durian? Atau durian maniak?  Kalo iya, kudu wajib melipir kesini nih…
Warso Farm adalah wisata kebun sekaligus menyediakan buah-buahan yang ditanam untuk disantap ditempat.   Daripada beli durian di pasar atau di supermarket kemudian dimakan di rumah, suasananya itu-itu aja, bosen ah….. hehehhe

Warso Farm berlokasi di Desa Cihideung, Cijeruk Kabupaten Bogor.  Menuju lokasi ini juga sangat mudah kok, bisa pake kendaraan umum atau pribadi.  Kalo kendaraan umum biasanya naik kendaraan  yang arah sukabumi.  Sedangkan kendaraan pribadi, bisa menggunakan jalur tol jagorawi kemudian keluar di pintu tol ciawi.  Dari sini sudah sangat dekat dan Warso Farm sangat mudah dikenali karena di pintu gerbangnya terdapat tugu durian yang sangat besar.

Warso Farm buka setiap hari dari jam 07.00 hingga jam 17.00, tapi untuk bisa jalan-jalan berkeliling kebun hanya diperbolehkan pada hari sabtu dan minggu saja.
Aku dan keluarga berkunjung kesini pada saat weekend.

Melangkah masuk dari gerbang disuguhi tugu berbentuk replika durian raksasa yang satu ruas kulitnya mengelupas sehingga terlihat daging buah durian matang berwarna kuning keemasan.  Beberapa meter ke dalam ada satu tugu lagi yang berbentuk replika buah naga merah yang ukurannya jauh lebih kecil dari tugu durian.  Tidak seperti kebanyakan tempat wisata yang harus beli tiket dulu sebelum masuk.  Di Warso Farm pengunjung diperbolehkan masuk bebas menikmati semua fasilitas yang disediakan tanpa dipungut biaya sepeserpun.

www.nanidjabar.blogspot.com


Saat kami  masuk, jam menunjukkan pukul Sembilan pagi.  Udara pagi bogor masih sangat terasa sejuknya.  Apalagi berada di tengah perkebunan seluas  8,5 hektar ini, menghirup udara segar diantara daun-daun yang sarat dengan oksigen, merupakan suasana langka di kota Jakarta.

Idenya Pak Soewarso Pawaka patut diancungi jempol.  Beliau ini seorang pensiunan TNI AD sekaligus perintis agrowisata durian, tidak hanya menawarkan durian langsung dari kebun tapi berkonsep wahana wisata.

Kami menelusuri jalan perkebunan yang di kiri kanannya pohon durian yang sedang berbuah lebat.  Tapi, saat itu bukan waktuya panen, jadi kami tidak diperbolehkan untuk memetik sesukanya.
Jenis durian disini juga banyak, ada sekitar 19 jenis durian yang tersebar diantara 900 pohon.  Beberapa diantaranya seperti jenis monthong, lay, petruk dan lain-lain.

duren warso bogor

durian warso
Kami terus menyusuri jalan setapak yang disediakan bagi pengunjung.  Sedikit menanjak keatas, mata kami menemukan pohon-pohon berbaris rapi dengan buah-buah merah bergelantungan di sela-selanya.   Kami mendekat.  Ternyata, ada perkebunan buah naga merah.  Mataku terbelalak, menyaksikan pohon yang  batang dan daunnya penuh duri persis seperti pohon kaktus tetapi menghasilkan buah yang lezat, empuk dan manis.  Subhanallah…. (noraknya aku yang baru pertama kali melihat pohon buah naga merah…hehee)
Dari atas kebun buah naga, kami bisa melihat pemandangan kebawah, hamparan sawah dan hutan terbentang hijau menyejukkan setiap mata yang memandangnya.



pemandangan indah di warso farm


Nah, kalo kamu penasaran bagaimana merawat dan menanam durian dan buah naga sehingga menghasilkan buah yang berkualitas, Pak Warso, pemilik kebun ini bersedia untuk berbagi ilmunya.  Asyik bukan? Dapet buah, dapet wisata kebun dan dapet ilmunya juga….

Setelah puas berjalan-jalan dan berfoto-foto ria diantara kebun durian dan buah naga, saatnya mencicipi durian monthong di kedai Pak Warso. 

durian monthong warso farm

buah naga merah warso farm

daging buah durian
Oh ya, selain makan buah dan berwisata kebun, disini juga disediakan wahana tempat bermain dan memancing.  Fasilitas ruang pertemuan dan fasilitas ibadah juga tersedia kok.  Jadi jangan khawatir kalo mau menghabiskan waktu weekend disini hingga sore hari.
Mau nyobain durian warso?  Yuk meluncurrrr…..


***

RESENSI BUKU ; THE POWER OF SHOWING UP

Judul : The Power of Showing Up Penulis : Daniel J. Siegel, M.D & Tina Payne Bryson, Ph.D Penerjemah : Alodia Dwinkarinardy Penerbit : P...