Selasa, 18 Agustus 2015

Mesjid Kubah Emas

www.nanidjabar@gmail.com
Mesjid Kubah Emas

Mesjid Kubah Emas, bergaya arsitektur Timur Tengah dikenal juga dengan nama Mesjid Dian Al-Mahri.  Dibangun di tepi jalan Raya Meruyung, Limo Depok.  Selain sebagai tempat ibadah, mesjid ini juga menjadi kawasan wisata dari berbagai penjuru daerah karena mempunyai daya tarik pada kubahnya yang berlapis emas.







Gambar dibawah ini adalah salah satu lorong yang menghubungkan gerbang pintu  masuk menuju mesjid. Mesjid Kubah Emas ini berdiri di tengah lahan seluas 50 hektar dikelilingi oleh Aula yang sangat besar, tempat parkir yang luas, taman-taman bunga yang tertata dan satu rumah besar dan megah yang  menjadi kediaman pemilik mesjid ini, Dian Al-Mahri.
mesjid lima menara
lorong menuju mesjid (dokpri)

desain timur tengah
dinding bagian luar lorong



mesjid kubah emas depok
kolam air mancur (dokpri)

Di beberapa sisi mesjid terdapat kolam air mancur, yang bagian atapnya berbentuk kubah dan disanggah empat tiang kokoh yang unik berbahan marmer hitam.  Pada bagian dalam mesjid terdapat satu lampu kristal tergantung mewah yang didatangkan dari Italy seberat 8 ton, sayang tidak bisa mengambil foto karena dijaga ketat oleh askar-askar di depan pintu masuk mesjid.  Bahan-bahan material mesjid kubah emas ini sebagian besar diimpor dari Italy dan Turki. Dan pengerjaannya pun digarap oleh para ahli berkebangsaan Turki.

Alhamdulillah, suatu sore berkesempatan menunaikan sholat Asyar di mesjid ini bersama keluarga tercinta.


***

Sabtu, 15 Agustus 2015

Ketika Singgah di Bologna, Italy


Liburan tahun baru 2014 lalu, aku dan keluarga berkesempatan mengunjungi beberapa Negara Eropa.  Bertepatan dengan winter, sekalian merasakan sensasi liburan musim dingin disana.  Italy adalah salah satu negara yang menjadi tujuan wisata kami.  Italy memang indah.  Tiga hari berada di negara  ini rasanya masih kurang, masih banyak tempat-tempat wisata yang belum sempat dijelajahi.  Tapi, tetap dan senantiasa bersyukur tentunya, karena selama di Italy kami bisa menikmati kecantikan kota Venice, yang terkenal dengan the city of water-nya.  Menelusuri Vatican, negara terkecil di dunia yang sarat ukiran-ukiran bergaya khas  eropa dalam setiap bangunannya, mengunjungi tempat-tempat peninggalan bersejarah seperti colosseum yang mengingatkan kembali sejarah peradaban kejayaan Romawi.  Juga menikmati keindahan kolam air mancur terbesar di Roma, Trevi Fountain dan tentu saja sebelum meninggalkan Italy, kami tuntaskan perjalanan ke Menara Miring Pisa, menyaksikan kemegahan sebuah menara yang miring dan menjadi salah satu keajaiban dunia.


Tapi sayang, Kota Bologna yang berada di bagian tengah wilayah Italy dan sangat masyhur dengan pasta dan saus Bolognese-nya tidak termasuk dalam itenarary kami selama di Italy.
Lalu, bagaimana kami bisa singgah di Bologna?
Selalu saja ada alasan jika Allah menghendaki.

Hugo, supir bis travel kami dan seorang wanita paru bayah sebagai guide kami selama berada di Eropa adalah dua orang baik yang bekerja sangat profesional.  Hugo yang asli orang Prancis dan Mbak Guide asli dari Indonesia sangat kompak dan disiplin dalam mengatur alokasi waktu di setiap kunjungan.  Kadang saking disiplinnya mereka berdua berkenan untuk mencari, berlari dan mengejar-ngejar kami yang sedang menikmati tempat-tempat wisata hanya sekedar untuk mengingatkan bahwa waktu yang tersedia tinggal sekian menit dan itu artinya kami harus buru-buru kembali ke bis untuk melanjutkan itenarary berikutnya.  Hmmm, kadang-kadang hal semacam ini sedikit membuat aku kurang merasa nyaman.  Tapi, apa boleh buat, memang begitulah plus minus menggunakan jasa travel.

Melihat kedua pendamping kami seperti itu, mana mungkin dong aku mengusulkan untuk merubah itenarary secara dadakan.
Entahlah, ketika bis kami melaju membelah kota Italy, aku mendengar percakapan  Hugo dan Mbak Guide dalam bahasa inggris yang sangat jelas dan mudah dipahami.  Mbak Guide meminta Hugo berhenti di Bologna selama dua jam sebelum kami kembali ke hotel dan makan malam.

“What for?” tanya Hugo sambil menoleh ke Mbak Guide yang berada disebelahnya.
“For Shopping” tegas Mbak Guide sambil mengulas senyum
Hugo mengangguk dan tersenyum lebar.

Akhirnya, jelang jam tiga sore bis kami berhenti di Kota Bologna, tepatnya di ruko-ruko pusat perbelanjaan produk-produk lokal Italy.

Girangnya bukan kepalang!!!
Kami di drop di sebuah halte pemberhentian bis dan diberikan waktu bebas selama dua jam untuk mengitari pertokoan dan dipesan untuk kembali ke bis sebelum matahari terbenam.  Pada saat winter , waktu malam lebih panjang dari siang. Waktu siang bisa dikatakan sangat singkat.  Jam lima sore  matahari sudah tenggelam dengan sempurna di Eropa.  Jadi kami harus kembali lagi ke bis sebelum jam lima.  Lumayan…. ujarku dalam hati.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Kota Bologna, disambut udara yang tidak begitu menggigit di tubuh.  Biasanya udara sore saat musim dingin sangat menusuk-nusuk tulang.  Berbeda dengan yang kami rasakan di Bologna.  Udara dingin di Bologna cukup bersahabat, mungkin karena anginnya tidak terlalu kencang sehingga tidak membuat kami khawatir kedinginan berada di area terbuka.

Bologna, Italy
Kota Bologna saat akhir tahun
Kesan pertama yang aku rasakan ketika berada di Kota Bologna adalah sepi dan merah.  Iya, suasana kota terasa sepi karena bertepatan dengan natal dan tahun baru, sehingga kebanyakan orang lebih memilih tinggal di rumah untuk mempersiapkan acara natal dan tahun baru.  Sebagian besar toko-toko di pinggir jalan raya tutup, hanya beberapa saja yang masih buka dan melayani pembeli.  Dan sejauh mata memandang, gedung-gedung unik yang tinggi dan berderetan di sepanjang jalan didominasi warna merah.  Entah,  apakah warna merah bata ini ada kaitannya dengan tradisi atau budaya yang berlaku di Bologna, aku kurang paham.

Kami memasuki sebuah toko pakaian yang penjaganya adalah suami isteri yang rambutnya sudah dipenuhi oleh uban.  Aku perkirakan usia keduanya diatas 60 tahunan.  Seperti biasa yang sering kita lakukan ketika berbelanja di Indonesia, aku  melihat-lihat, memegang kemudian mengambil barang yang aku suka untuk ditunjukkan kepada penjaga bahwa aku ingin membeli barang ini.  Dan ternyata  apa yang aku lakukan telah menyalahi kebiasaan jual beli disana.  Dengan bahasa Italy yang fasih, si kakek penjaga toko menjelaskan bahwa seharusnya aku hanya melihat dan menunjuk saja barang yang aku mau beli, tidak boleh memegang, sementara dia yang mengambil dan mempersilahkan aku untuk melihatnya kemudian.  Aku terperangah kaget sambil senyum-senyum karena tidak mengerti sama sekali bahasa Italy dan berusaha memahami perkataannya dari bahasa tubuh yang dia peragakan.  Aku berusaha mengulangi apa yang dia maksud dalam bahasa inggris. Percuma, ternyata mereka tidak paham bahasa inggris sedikitpun.

Aku menangkap sepertinya kakek tua ini ingin mengatakan bahwa pembeli adalah raja.  Pembeli tidak usah bersusah payah mencari barang yang disukai, cukup katakan dan penjaga toko yang akan memberikan pelayanan sesuai dengan yang diminta.

Aku berpikir keras berusaha menggunakan bahasa tubuh untuk menjelaskan apa yang dia maksud.  Tiba-tiba dia mengacungkan kedua jempol dan tertawa lebar.  Spontan kamipun tertawa bersama.  Ha…ha…ha…. berasa seperti tarzan.

Pengalaman lucu ini tentu saja ironis.  Iya, malah sangat ironis menurutku.  Kota Bologna ini terkenal sebagai kota pelajar.  Universitas Bologna, sebuah universitas tertua di Eropa Barat, bahkan merupakan salah satu universitas tertua di dunia ada di Kota Bologna.  Ratusan ribu mahasiswa dari berbagai penjuru dunia datang ke universitas ini untuk menimba ilmu dan pengetahuan.  Tapi mengapa bahasa inggris yang minimal digunakan oleh antar mahasiswa yang berlainan negara dalam berinteraksi tidak terlalu berimbas ke masyarakat luas di Bologna?  Atau bagaimana para mahasiswa dari luar Italy bersosialisasi dengan masyarakat sekitar atau ketika bertransaksi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari?  Atau mereka menggunakan bahasa tarzan seperti yang aku lakukan dengan kakek tua penjaga toko itu?
Rentetan pertanyaan muncul di benakku.  Membuat aku penasaran dan ingin kembali lagi ke Bologna, suatu saat nanti.  Semoga Allah mengabulkan keinginanku.

bangunan merah bologna

lalu lintas di bologna

bis kota bologna
Bis Kota Bologna
Kami menyusuri lorong-lorong toko yang hanya berdinding kaca pada bagian depannya.  Barang-barang yang ada di dalam toko dapat terlihat dengan jelas seperti melihat ikan dalam  aquarium.  Tapi semua pintunya tertutup rapat dan terkunci.  Kami menghampiri setiap toko yang masih buka.  Rata-rata yang dijual disini adalah produk fashion seperti pakaian, sepatu, sandal, tas dan sejenisnya.  Walaupun produk lokal Italy tapi kualitasnya gak kalah dengan barang-barang brand yang di jual di mall-mall besar Italy.  Harganya? Sangat murah dan terjangkau dibanding harga-harga barang di The Mall.  Apalagi menjelang tahun baru banyak diskon besar-besaran akhir tahun.  Menyenangkan belanja disini.

Kami berjalan dari satu gedung ke gedung lainnya.  Ada satu hal yang unik dari setiap gedung-gedung yang kami lalui.  Bentuk atap yang melengkung unik di sepanjang jalan yang kami lalui.  Namanya portuci.  Portuci dalam bahasa Italy berarti gang beratap.  Bentuk atap yang menyerupai tekukan lipatan ini tidak kami jumpai di kota-kota lain di Italy.

Satu hal lagi yang membuat aku kagum dengan Kota Bologna ini, lalu lintas kendaraan sangat tertib dan rapi.  Di setiap zebra cross terdapat dua buah lampu merah. Satu untuk pejalan kaki dan satu lagi untuk kendaraan mobil.  Kami menghentikan langkah di pangkal zebra cross karena melihat sebuah mobil pribadi akan melintas.  Tapi tanpa kami duga mobil tersebut berhenti dan membuka kaca mobil.  Dari balik kaca tersebut terlihat seorang lelaki muda menyunggingkan senyum dan mempersilahkan kami untuk menyeberang.  Ah, aku jadi teringat lalu lintas di negeriku.

diskon akhir tahun

atap berbentuk lekukan
portuci, atap berbentuk lekukan 


keindahan kota bologna

Tak terasa matahari mulai meredup, itu tandanya kami sudah ditunggu oleh Hugo dan Mbak Guide.
Selamat tinggal Bologna….semoga suatu hari nanti kami bisa kembali mengunjungi kotamu.



kerlap kerlip lampu malam

www.nanidjabar.blogspot.com
berfoto bersama Hugo-supir bis
***


Minggu, 09 Agustus 2015

Wisata Gumuk Pasir, Yogyakarta

Pernah mendengar tempat wisata Gumuk Pasir?  Atau jangan-jangan  baru kali ini mendengarnya…

Sama kalo begitu…hheheehe


Di penghujung tahun 2014 yang lalu ketika aku dan keluarga sengaja untuk mengisi liburan berkeliling ke beberapa tempat wisata di Yogya, Gumuk Pasir adalah salah satu destinasi wisata yang kami kunjungi.  Aku menemukan tempat wisata ini dari browsing di internet.  Penasaran aja, seperti apa Gumuk Pasir yang dimaksud.


Kata gumuk itu berasal dari bahasa jawa yang artinya gundukan.  Jadi Gumuk Pasir lebih kurang diartikan sebagai gundukan pasir yang terbentang luas karena proses gejala alam yang memakan waktu ribuan tahun dengan bentuk dan tipe-tipe yang juga sangat dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar, kecepatan dan arah angin.


Setelah dua hari muter-muter di pusat kerajinan kulit manding, hari ketiga kami mengawali perjalanan menuju Gumuk Pasir.  Kerajinan kulit manding dengan Gumuk Pasir masih terletak dalam area Bantul, tidak jauh dengan Pantai Parangtritis yang tersohor itu.  Tidak sulit menuju lokasi ini.  Kalau menggunakan kendaraan pribadi hanya memakan waktu tempuh lebih kurang setengah jam dari kota Yogya.  Gumuk Pasir ini diapit oleh dua pantai yang berdekatan, Pantai Parangtritis dan Pantai Depok.


Sampai di Gumuk Pasir waktu menunjukkan jam 08:30 wib.  Masih sangat pagi bukan!


Apa yang kami saksikan???


Bentangan pasir halus yang luas dengan suhu udara yang sangat panas menyengat, terutama ketika menginjakkan kaki di atas pasir.  Bagi kamu yang pernah berkunjung ke Jabal Rahmah atau Jabal Magnet atau peternakan unta di Arab Saudi pada siang hari, nah kira-kira seperti itulah hawa panas yang terasa di kulit ketika berada di tengah hamparan Gumuk Pasir.


Aku menamakannya, pemandangan yang sangat unik!!!

Bagaimana mungkin, Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa dengan iklim tropis dan curah hujan yang cukup tinggi memiliki sebuah penampakan alam serupa gurun.  Tepatnya gurun pasir.  Seperti yang kita ketahui, gurun pasir biasanya berada pada negara-negara dengan curah hujan yang rendah.  Padang Pasir di Arab misalnya atau yang tidak asing lagi di telinga kita, Gurun Sahara, gurun terluas di dunia yang terletak di bagian utara Afrika. 


Yang lebih unik lagi, perubahan suhu di Gumuk Pasir sangat ekstrim.  Pada siang hari sangat panas dan malam hari sangat dingin, persis seperti suhu yang ada di Gurun Sahara.  Makanya fenomena alam yang tidak biasa ini menarik para ahli geografi dan ahli geologi untuk melakukan penelitian.  Bahkan rencananya akan dimasukkan dalam daftar situs warisan dunia UNESCO.



Bagaimana Gumuk Pasir bisa terbentuk?

Dari beberapa analis mengatakan bahwa Gumuk Pasir merupakan fenomena alam yang terbentuk akibat pergerakan angin.  Tentu saja dalam hal ini, keberadaan Gunung Merapi sebagai penyedia pasir sangat mempengaruhi luasnya bentangan pasir yang membentuk gundukan-gundukan.  Angin membawa pasir-pasir dari material vulkanis Gunung Merapi.  Pasir-pasir ini kemudian diterbangkan oleh angin menuju ke lautan.  Proses selanjutnya, pasir-pasir ini akan berubah bentuk menjadi pasir-pasir halus ketika bercampur dengan air laut.  Pada saat pasang, kerasnya gelombang air laut dan kencangnya angin membuat pasir-pasir ini terlempar ke daratan.  Proses ini terjadi ribuan tahun sehingga terbentuklah Gumuk Pasir seperti yang kita saksikan sekarang.


Keindahan dan keunikan Gumuk Pasir ini telah menginspirasi para pencinta photography dan videography untuk mengabadikannya dalam lensa kamera dan video.  Beberapa fotografer profesional memanfaatkan keunikan dan angin yang kencang untuk pengambilan gambar pre wedding.  Bahkan artis Agnes Monica dan Band Letto pernah membuat video klip di lokasi ini.


Selain itu beberapa pengunjung memanfaatkan Gumuk Pasir ini untuk bermain papan seluncur atau sandboarding.  Dan pada bulan-bulan tertentu menjelang keberangkatan haji, Gumuk Pasir ini juga sering dipakai sebagai tempat manasik haji untuk melatih para calon jamaah haji beradaptasi dengan udara di gurun  Arab.


Setelah puas mengitari Gumuk Pasir dan mengambil beberapa foto, kami pun melanjutkan perjalanan kami ke destinasi berikutnya.  Berharap di kemudian hari tempat wisata Gumuk Pasir ini akan menjadi tempat wisata yang tidak saja unik, tapi nyaman dan terkelola dengan baik sehingga Gumuk Pasir ini menjadi satu-satunya Gurun di Indonesia yang  dengan terpeliharanya keunikan dan keindahannya bisa  menarik banyak wisatawan untuk berkunjung.  Tentu saja perlu kerja sama yang baik antara pemerintah, masyarakat setempat dan pihak pengelola (swasta).

 


gumuk pasir parangtritis


berfoto di gumuk pasir








www.nanidjabar.blogspot.com


Baca juga :

Kutitipkan Cinta di Pantai Krakal, Gunung Kidul
***

Senin, 03 Agustus 2015

Surga Bawah Laut, Bukan Surga Yang Tak Dirindukan

Surga Bawah Laut, Bukan Surga Yang Tak Dirindukan.  Akhir-akhir ini media sosial diramaikan dengan diskusi yang mengusung tema klasik, poligami.  Entah kebetulan atau sengaja karena memang film layar lebar “Surga Yang Tak Dirindukan” yang diangkat dari novel karya Asma Nadia sedang tayang di bioskop-bioskop Nusantara.  Menjadi Trending Topic, bahkan beberapa netizen  sengaja meng update status dengan mengangkat tema ini.  Pro kontra, Pasti! Perdebatan panjang tak bisa dielakkan.  Yang pro dan kontra sama-sama merasa berada di garis idealisme dengan argumennya masing-masing.


Lalu, aku berada di pihak mana? Dan apa pula kaitannya dengan surga bawah laut?


Untuk tema yang satu ini aku memilih abstain.  Tidak berpihak pada yang pro apalagi kontra.  Jangankan larut dalam perdebatan panjang yang seringkali berujung deadlock, untuk berdiskusipun aku haturkan terimakasih.  Buat aku pribadi, untuk menggapai surga lewat corong poligami cukup tunjuk dada sendiri dan tanya sejauh mana diri ini qona’ah dan ridho terhadap ketentuan dan aturan Allah???  Tak perlu diumbar!  Karena sesungguhnya level taqwa itu hanya kita dan Allah saja yang tahu.


Balik lagi, apa hubungannya dengan surga bawah laut?


Hmmm…tentu ada dan bisa ditarik benang merahnya (kalo gak, paksain aja deh…hehehe).  Pada tulisan ini aku ingin menekankan bahwa surga bawah laut adalah keindahan sempurna bak surga yang tidak ada perselisihan apalagi menyulut kontroversi  tentang keindahannya.  Siapa yang berani menyebut kalau wisata bahari di Raja Ampat tidak indah, atau kehidupan dasar laut Wakatobi, Taman Nasional Bunaken, atau Pulau Derawan yang bertabur dengan keelokan biota laut dan terumbu karang yang cantik itu???


Ah, aku yakin semua akan bersuara sama dengan nada yang indah…… “Wow, ini benar-benar surga bawah laut!!!”

Iya…. ‘surga’ yang dirindukan semua orang.  Bukan surga yang tak dirindukan….


Keindahan panorama dasar laut yang dengan kecerdasan, keilmuan dan kebeningan hati yang menyaksikannya dapat menghantarkan seseorang mengenal  Tuhan yang sesungguhnya.  Rabb yang menciptakan segala keindahan semesta termasuk keindahan bawah laut.

 Seorang oceanography berkebangsaan Prancis Mr. Jacques Yves Costeau, yang sering melakukan eksplorasi di berbagai samudera di dunia memutuskan memeluk islam setelah mengetahui bahwa Al-qur’an telah mengabadikan keajaiban bawah laut jauh sebelum Costeau mengabadikannya dalam film-film dokumenternya.  Subhanallah…


Bagaimana dengan anda,  yang sering bereksplorasi di dasar laut dengan snorkeling dan diving, apakah  telah menjadikan anda lebih dekat dengan Sang Pencipta?   Silahkan dijawab masing-masing aja ya….   hehhe






Snorkeling di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu

Bagaimana muslimah snorkeling?

Ini sebenarnya topik tulisan yang ingin aku share.  Liburan lebaran kemarin tanpa perencanaan sebelumnya alias dadakan kami (aku dan keluarga) berkunjung ke Pulau Pramuka, Pusat Pemerintahan Kepulauan Seribu.  Pulau yang dikenal sebagai tempat para wisatawan asing dan nusantara melepas penat, mencari suasana baru yang bisa mem-fresh kan kembali pikiran dengan kegiatan paket-paket wisata baharinya. 

Wisata utama yang ditawarkan disini adalah snorkeling, selain tentunya bisa juga diving atau banana boat dan kano.

Ketika suami menawarkan liburan snorkeling ini, aku sedikit ragu menganggukkan kepala.  Aku  memang belum pernah snorkeling sebelumnya, tapi snorkeling bukan hal yang asing  buat aku.  Karena hobiku mengunjungi pantai telah membuat mataku tidak asing melihat orang-orang bersnokeling  bahkan muslimah yang dengan ‘berani’ mengenakan pakaian renang ketika bersnokeling ria diantara kerumunan orang-orang  yang kadang membuat aku risih sendiri.


Pemandangan seperti ini yang membuat aku enggan mengiyakan dengan tulus ketika suamiku mengajak bersnokeling di Pulau Pramuka.


“Gak salah nih ngajakin snorkeling?” tanyaku dengan air muka penasaran.


Sepertinya suamiku paham dengan maksud pertanyaanku. 

“Gak dong, kamu dan kakak (putri sulung kami) tetap bisa berpakaian muslimah seperti biasa” pungkasnya meyakinkan aku.


Iya, snorkeling itu di lautan terbuka.  Bukan kolam renang khusus muslimah bo… hehhhehe

Banyak mata laki-laki yang diharamkan melihat aurot wanita.  Minimal pemandu snorkeling, abang yang mengendalikan perahu motor, dan satu lagi abang yang mengontrol arah jalannya perahu motor.  Yang namanya abang-abang pasti bukan perempuan dong… hehheh


So…. Simpan pakaian renang (baca : pakaian ketat) di lemari rapat-rapat, bila perlu dikunci dan kuncinya lempar ke laut…eits sorry…. Maksudnya simpen aja di rumah ya … hehehe

Dan kenakan pakaian muslimah seperti biasa sebagaimana kamu beraktivitas di luar rumah.


Kalau aku, mungkin bisa jadi inspirasi muslimah lain ya.  Pertama aku mengenakan longjohn (pakaian dalam berupa kaos lengan panjang dan celana panjang) yang terbuat dari bahan wol, ringan dan tidak menyerap air.  Kemudian pada bagian luar aku mengenakan kaos tebal dan longgar lengan panjang yang juga berbahan wol dengan panjang selutut.  Pada bagian bawahnya aku mengenakan rok lebar panjang sampai mata kaki yang tebal tapi ringan dan lembut terbuat dari campuran bahan jersey dan nilon.  Tidak  menyerap air sehingga tetap nyaman dan ringan ketika berada di dalam air.  Untuk kepala, seperti biasa kenakan dahulu cipluk yang nempel di kepala kemudian baru aku mengenakan kerudung kaos yang panjang sampai menutupi dada.  Begitu juga yang dikenakan oleh putri sulungku.  Kalo putri bungsuku karena dia masih belum baligh, belum terbebani hukum, jadi hanya mengenakan celana panjang training dan kaos lengan panjang, tanpa rok. 


Aktivitas snorkelingpun dimulai.  Perahu motor melaju membawa kami menuju Pulau Semak Daun.  Pulau Semak Daun adalah pulau kecil diantara bertaburnya pulau-pulau di Kepulauan Seribu.  Pulau ini masih sangat sepi, alami dan berpasir putih halus dengan topografi pantai yang landai.  Karena kealamiannya maka pulau ini banyak dikunjungi untuk kegiatan snorkeling dan diving.  Di pulau ini belum ada fasilitas untuk menginap, untuk bisa sampai ke pulau ini biasanya melalui Pulau Pramuka dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.


Ketika mulai terjun ke air yang jernih dan menyaksikan kehidupan bawah laut yang keindahannya tak sebanding dengan ungkapan rangkaian kata-kata indah manapun.  Maka, satu kalimat yang mewakili rasa takjub sebagai makhluk yang tak berdaya, ‘Subhanallah, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan’.  Dia-lah yang mengalirkan ketundukan lewat keindahan ciptaan-Nya bagi orang-orang yang berpikir.

Dua jam bereksplorasi di Pulau Semak Daun tak terasa.  Pemandu mengingatkan kami untuk naik ke perahu motor dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Air untuk kembali mengintip kehidupan  bawah laut yang juga tak kalah indahnya.

siluet di bawah laut



www.nanidjabar.blogspot.com



pulau air
Putri bungsuku -memberi makan ikan

terumbu karang di pulau air



Ternyata,beberapa jenis terumbu karang yang berada di dasar laut Pulau Air tidak ditemukan di Pulau Semak Daun.  Keanekaragaman biota laut dengan warna-warna dan bentuk yang unik ditambah lagi ikan-ikan hias dengan corak dan warna cerah sangat memukau mata. 

Aku benar-benar merasa sedang berada di antara taman surga.  Ingin rasanya berlama-lama di Pulau Air ini, tapi lagi-lagi suara pemandu mengingatkan kami untuk segera naik ke perahu motor untuk kembali ke Pulau Pramuka, karena matahari mulai beranjak naik, teriknya makin terasa dan pemandu mengatakan tidak baik untuk kesehatan kulit kami, apalagi kulit wanita… ehm…ehm..
  


  biota laut











pulau semak daun










Apakah aktivitas snorkeling terganggu karena mengenakan rok?

Tidak sama sekali!!!


Kamu mau tahu, aku jadi ketagihan untuk bersnorkeling, kalau saja usiaku belum kepala empat, ingin rasanya hati ini ikut pelatihan diving dan kemudian dengan modal sertifikat aku bisa bereksplorasi di banyak pulau, menyelam dan berkhalwat dengan Sang Pencipta  Surga bawah laut. 


Hamdan Lillah atas pengalaman ini, semoga Allah beri kesempatan untuk kembali menikmati keindahan bawah laut ini di tempat-tempat lainnya.  Aaminn.

RESENSI BUKU ; THE POWER OF SHOWING UP

Judul : The Power of Showing Up Penulis : Daniel J. Siegel, M.D & Tina Payne Bryson, Ph.D Penerjemah : Alodia Dwinkarinardy Penerbit : P...